Pada 4 Maret, sidang tahunan “Dua Sesi” Tiongkok resmi dibuka di Beijing. Sebagai agenda penting dalam kehidupan politik Tiongkok, “Dua Sesi” selalu mendapat perhatian luas, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Penyelenggaraan “Dua Sesi” pada 2026 memiliki makna tersendiri. Tahun ini merupakan tahun pertama pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok. Artinya, melalui agenda “Dua Sesi”, arah perkembangan ekonomi dan sosial Tiongkok untuk tahun ini hingga lima tahun ke depan akan terlihat dengan jelas.

On December 21, 2025, the 2025 Guangzhou Marathon kicked off(Photo: Xinhua News Agency)
(I) Target Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Stabil dan Pragmatis
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan Tiongkok setiap tahun bukan hanya menjadi acuan utama kebijakan makroekonomi nasional, tetapi juga menjadi indikator penting bagi dunia untuk mengamati arah pembangunan Tiongkok dan menilai tren ekonomi global.
Pada 2026, Tiongkok menetapkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kisaran 4,5-5 persen, seraya mengupayakan hasil yang lebih baik.
Untuk memahami target pertumbuhan ekonomi tersebut, tidak cukup hanya melihat angkanya. Yang lebih penting adalah memahami berbagai makna di balik target tersebut.
Saat menjelaskan target tersebut, Kepala Tim Penyusun Laporan Kerja Pemerintah Tiongkok sekaligus Direktur Kantor Penelitian Dewan Negara, Shen Danyang, menyatakan bahwa target pertumbuhan tahun ini ditetapkan dengan mempertimbangkan secara menyeluruh kondisi perekonomian domestik dan perubahan lingkungan eksternal, serta menyeimbangkan antara kebutuhan dan kemungkinan. Menurutnya, target itu bersifat realistis dan pragmatis, yakni “berupaya mencapai target yang lebih tinggi, namun tetap melangkah dengan mantap.”

At the world’s first robot 6S store in Shenzhen, staff showcased a humanoid robot(Photo: Liang Xu/Xinhua News Agency)
Tiongkok telah menegaskan bahwa pada 2035, produk domestik bruto (PDB) per kapita harus mencapai tingkat negara-negara berpendapatan menengah maju. Berdasarkan kajian para ahli, apabila dihitung mundur dari sasaran jangka panjang berupa PDB per kapita lebih dari 20.000 dolar AS pada 2035 dan meningkat dua kali lipat dibandingkan 2020, target tersebut dapat tercapai jika perekonomian Tiongkok tumbuh rata-rata lebih dari 4,17 persen per tahun dalam sepuluh tahun mendatang.
Target pertumbuhan ekonomi tahun ini juga menandai bahwa, setelah tiga tahun berturut-turut menetapkan sasaran pertumbuhan sekitar 5 persen, Tiongkok kembali menetapkan target dalam bentuk kisaran. Sebelumnya, pada 2016, Tiongkok menetapkan target pertumbuhan sebesar 6,5-7 persen dan mencatat pertumbuhan 6,8 persen. Pada 2019, target ditetapkan pada kisaran 6-6,5 persen, sementara realisasinya mencapai 6,1 persen. Kedua realisasi tersebut berada di atas batas bawah target yang telah ditetapkan.
Penetapan target dalam bentuk kisaran juga dimaksudkan untuk memberikan ruang kebijakan yang memadai dalam menghadapi berbagai ketidakpastian, seperti risiko geopolitik dan menguatnya proteksionisme.
Pakar senior Malaysia sekaligus Ketua Dewan New Asia Strategy Research Center, Koh King Kee, menilai bahwa “target yang pragmatis ini mencerminkan stabilitas dan fleksibilitas kebijakan Tiongkok.”
Sementara itu, ekonom senior Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Liang Guoyong, menilai bahwa penetapan target proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam bentuk kisaran mencerminkan pragmatisme dan fleksibilitas kebijakan ekonomi Tiongkok, sekaligus memberi ruang yang lebih besar untuk menghadapi tantangan eksternal, seperti gejolak geopolitik global dan ketidakteraturan dalam tata kelola ekonomi internasional.

At a nursing home in Shenzhen, an elderly person interacts with the humanoid robot “Xialan”((Photo: Liang Xu/Xinhua News Agency)
Profesor Ekonomi Universitas Airlangga, Indonesia, Rahma Gafmi, menilai bahwa dalam keseluruhan periode Rencana Lima Tahun ke-15, makna penetapan target proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok “bukan terletak pada angka atau kisaran itu sendiri, melainkan pada penegasan arah pembangunan untuk lima tahun ke depan. Di satu sisi, laju pertumbuhan yang wajar menciptakan ruang bagi reformasi, transformasi, dan mitigasi risiko. Di sisi lain, landasan pertumbuhan akan semakin bertumpu pada perluasan permintaan domestik, peningkatan Total Faktor Produktivitas (TFP), serta penguatan kapasitas inovasi sains dan teknologi.”
(II) KTT APEC Shenzhen Menjadi Sorotan
Tahun 2026 menjadi “Tahun Tiongkok” bagi APEC. Pada November, Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC ke-33 akan digelar di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Tema APEC 2026 adalah “Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Kemakmuran Bersama”, dengan tiga bidang prioritas, yakni keterbukaan, inovasi, dan kerja sama.
Sebagai provinsi dengan perekonomian terbesar di Tiongkok dan berada di garis depan keterbukaan terhadap dunia luar, Guangdong bukan hanya menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok, tetapi juga menjadi sarana utama partisipasi Tiongkok dalam kerja sama kawasan Asia-Pasifik.

The first APEC Senior Officials’ Meeting in 2026 was held in Guangzhou, Guangdong(Photo:Deng Hua/Xinhua News Agency)
Melalui pendalaman hubungan perdagangan, kerja sama industri, serta pertukaran inovasi sains dan teknologi dengan negara-negara anggota APEC, Guangdong tidak hanya membantu perusahaan lokal memperluas pasar Asia-Pasifik, tetapi juga menarik investasi asing, teknologi, dan talenta dalam jumlah besar dari anggota APEC, yang secara langsung menopang pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Koh King Kee telah beberapa kali berkunjung ke Shenzhen. Menurutnya, kota ini meninggalkan tiga kesan mendalam, yakni kecepatan inovasi, integrasi yang erat antara teknologi dan tata kelola perkotaan, serta kuatnya sektor manufaktur maju.
Menurut Koh King Kee, keunggulan klaster industri Guangdong di bidang 5G, kecerdasan buatan, internet industri, kendaraan energi baru, serta manufaktur fotovoltaik dapat berpadu dengan peran Malaysia di kawasan sebagai pusat manufaktur maju ASEAN, pusat layanan digital, dan pusat keuangan berkelanjutan.
Ia berharap, dari segi komplementaritas rantai pasok, Malaysia dapat memanfaatkan mekanisme APEC untuk mendorong saling pengakuan standar dan fasilitasi perdagangan, sehingga keunggulannya di bidang kelistrikan dan elektronik, semikonduktor, serta sektor terkait lainnya dapat terhubung lebih erat dengan basis manufaktur maju di Kawasan Teluk Raya Guangdong-Hong Kong-Makau, terutama Shenzhen.
Profesor Fakultas Ekonomi Universitas Peking sekaligus Direktur Pusat Penelitian Ekonomi Nasional Universitas Peking, Su Jian, menilai bahwa keberhasilan penyelenggaraan konferensi APEC menjadi peluang penting bagi Guangdong untuk mendorong keterbukaan institusional.
Ia mengatakan, “Di satu sisi, kehadiran tokoh politik dan pelaku usaha dari berbagai negara akan membawa beragam informasi dan gagasan, sehingga membantu Guangdong menyesuaikan diri dengan aturan internasional. Di sisi lain, penyelenggaraan ajang internasional berskala besar juga menuntut standar yang lebih tinggi dalam tata kelola perkotaan dan kesiapan sektor industri. Mekanisme ‘dorongan eksternal’ ini akan mendorong industri tradisional mempercepat transformasi ke arah yang lebih cerdas, sehingga keterbukaan dapat mendorong reformasi dan pembangunan.”
Tiongkok telah tiga kali menjadi tuan rumah APEC, yakni di Shanghai, Beijing, dan kini Shenzhen. Rentang 25 tahun di antara ketiganya menggambarkan dengan jelas perjalanan Tiongkok menuju panggung global. Pada 2026, Shenzhen akan menunjukkan kepada dunia kepemimpinan Tiongkok di bidang inovasi sains dan teknologi, serta capaian baru dalam reformasi dan keterbukaan. Bagi masyarakat internasional, baik APEC Shenzhen maupun target pertumbuhan ekonomi yang baru memberikan gambaran tentang arah masa depan perekonomian Tiongkok.
Fu Yi, Zhao Peng

